Senin, 25 Mei 2015

"Manusia dan Keadilan Distributif"

Nama                    : Abraham F. S
NPM                      : 10314083
Kelas                     : 1TA02
Matkul                  : Ilmu Budaya Dasar

“Manusia dan Keadilan Distributif”

Pengertian Keadilan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata adil berarti tidak berat sebelah atau tidak memihak atau sewenang-wenang, sehingga keadilan mengandung pengertian sebagai suatu hal yang tidak berat sebelah atau tidak memihak atau sewenang-wenang.

Keadilan adalah pengakuan dan perlakuan yang seimbang antara hak dan kewajiban. Jika kita mengakui hak hidup kita, maka sebaliknya kita wajib mempertahankan hak hidup denganbekerja keras tanpa merugikan orang lai. Halm ini disebabkan olerh karena orang lain pun mempunyai hak hidup seperti kita. Jika kita pun mengakui hak hidup orang lain, kita wajib memberikan kesempatan kepada orang lain untuk mempertahankan hak hidupmereka sendiri.jadi, keadilan pada pokoknya terletak pada keseimbanganatau keharmonisan antara menuntut hak, dan menjalankan kewajiban.

Dalam bukunya M. Munandar sulaiman, menyatakan pengertian keadilan menurut beberapa teori antara lain :
Menurut Aristoteles adalah kelayakan dalam tindakan manusia. Kelayakan diartiaka sebagai titik tengah diantara kedua ujung ekstrem yang terlalu banyak dan terlalu sedikit.

Menurut Plato
merupakan proyeksi pada diri manusia sehingga orang yang dikatakan adil adalah orang yang mengendalika diri dan perasaanya dikendalikan oleh akal

Menurut Socrates
merupakn proyeksi pada pemerintah karena pemerintah adalah pimpinan pokok yang menetukan dinamika masyarakat 
Keadilan tercipta bilamana warga negara sudah merasakan bahwa pihak pemerintah sudah melaksanakan tugasnya dengan baik.

Pengertian Keadilan Distributif

adalah keadilan yang memberikan kepada masing-masing terhadap apa yang menjadi hak pada suatu subjek hak yaitu individu. Keadilan distributif adalah keadilan yang menilai dari proporsionalitas atau kesebandingan berdasarkan jasa, kebutuhan, dan kecakapan.

*Contoh1 keadilan distributif yaitu  karyawan yang telah bekerja selama 30 tahun, maka ia pantas mendapatkan kenaikan jabatan atau pangkat.
*Contoh1 keadilan distributif  yaitu pemberian nilai pada peserta didik sesuai dengan prestasi yang dimilikinya.









Senin, 11 Mei 2015

Manusia dan Penderitaan

Nama                    : Abraham F. S
NPM                     : 10314083
Kelas                    : 1TA02
Matkul                 : Ilmu Budaya Dasar


Manusia dan Penderitaan
                Dalam kehidupan menjalani kehidupannya sehari hari, manusia pasti akan merasakan suatu kebahagiaan ataupun penderitaan. Tidak mungkin hidup manusia atau seseorang akan bahagia terus, tentu akan merasakan juga yang namanya penderitaan.

Pengertian Penderitaan
Penderitaan adalah menanggung atau menjalani sesuatu yang sangat tidak menyenangkan yang dapat di rasakan oleh manusia. Setiap manusia pasti pernah mengalami penderitaan baik secara fisik maupun batin.
Penderitaan juga termasuk realitas dunia dan manusia. Intensitas penderitaan manusia bertingkat-tingkat, ada yang berat dan ada juga yang ringan. Namun, peranan individu juga menentukan berat tidaknya suatu intensitas penderitaan. Suatu peristiwa yang di anggap penderitaan oleh seseorang belum tentu merupakan suatu penderitaan bagi orang lain. Dapat pula suatu penderitaan merupakan energi untuk bangkit bagi seseorang, atau sebagai langkah awal untuk mencapai kenikmatan dan kebahagian.
Memang harus diakui, di antara kita dan dalam masyarakat masih terdapat banyak orang yang sungguh-sungguh berkehendak baik, yaitu manusia yang merasa prihatin atas aneka tindakan kejam yang ditujukan kepada sesama manusia yang tidak saja prihatin, melainkan berperan serta mengurangi penderitaan sesamanya, bahkan juga berusaha untuk mencegah penderitaan atau paling tidak menguranginya, serta manusia yang berusaha keras tanpa pamrih untuk melindungi, memelihara dan mengembangkan lingkungan alam ciptaan secara berkelanjutan. Ada keinginan alamiah manusia untuk menghindari penderitaan. Tetapi justru penderitaan itu merupakan bagian yang terkandung di dalam kemanusiaannya.

Akibat Penderitaan
Akibat penderitaan yang bermacam-macam. Ada yang mendapat hikmah besar dari suatu penderitaan, ada pula yang menyebabkan kegelapan dalam hidupnya. Oleh karena itu, penderitaan belum tentu tidak bermanfaat.


                Dalam menyikapi penderitaan dalam kehidupan, manusia harus bisa berpikir positif tentang penderitaan yang dialami. Manusia harus bisa intropeksi diri tentang penderitaan yang dialami itu terjadi karena apa dan harus bisa mengatasi atau mencari solusinya agar penderitaan tersebut tidak berulang, selain itu kadang penderitaan bersifat membangun karakter manusia menjadi lebih kuat dan tidak mudah menyerah dalam mengerjar sesuatu atau bisa dikatakan penderitaan yang didapat dijadikan acuan atau pembelajaran untuk lebih baik lagi

Senin, 04 Mei 2015

Manusia dan Keindahan

Nama                    : Abraham F. S
NPM                      : 10314083
Kelas                     : 1TA02
Matkul                  : Ilmu Budaya Dasar

Manusia dan Keindahan

Pengertian Manusia
Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang paling sempurna dibandingkan dengan makhluk lainnya, karena manusia mempunyai akal dan pikiran untuk berfikir secara logis dan dinamis, dan bisa membatasi diri dengan perbuatan yang tidak dilakukan, dan kita pun bisa memilih perbuatan mana yang baik (positif) atau buruk (negatif) buat diri kita sendiri. Selain itu dapat diartikan manusia secara umum adalah manusia sebagai makhluk pribadi dan makhluk sosial. Karena bukan hanya diri sendiri saja tetapi manusia perlu bantuan dari orang lain. Maka sebab itu manusia adalah makhluk pribadi sekaligus makhluk sosial.

Pengertian Keindahan
Apa itu keindahan? Kata keindahan berasal dari kata indah yang berarti bagus, permai, cantik, molek dan sebagainya. Tentunya kita semua dan saya sendiri tahu  bahwa keindahan merupakan sesuatu, baik itu benda, pemandangan atau bahkan alunan musik yang enak dilihat, didengar dan memiliki nilai estetika yang tinggi. Kita sebagai manusia tentunya menyukai keindahan, contohnya keindahan akan lukisan yang dipajang di ruang tamu kita, karena lukisan tersebut indah maka kita memasangnya di ruang tamu karena lukisan tersebut indah, bagus, dan memiliki nilai estetika dan seni yang tinggi.

Menurut The Liang Gie dalam bukunya yang berjudul “Garis Besar Estetika”, menurut asal katanya, dalam bahasa Inggris, keindahan itu diterjemahkan dengan kata “beautiful” dalam bahasa Perancis “beau” dalam bahasa Italia dan Spanyol “bello” yang berasal dari bahasa latin “bellum”. Akar katanya adalah “bonum” yang berarti kebaikan, kemudian mempunyai bentuk pengecilan menjadi “bonellum” dan terakhir diperpendek menjadi “bellum”.

Selain itu, pengertian keindahan dapat dilihat dalam arti luas, estetik murni, dan terbatas.
Keindahan dalam arti luas, yaitu keindahan dalam ide kebaikan, watak yang indah, dan hukum yang indah. Keindahan sebagai sesuatu yang baik dan juga indah.
Keindahan dalam arti estetik murni, yaitu pengalaman estetik seseorang pada hubungannya dengan apa yang diserapnya.
Keindahan dalam arti terbatas, yaitu keindahan yang dapat diserap seseorang melalui panca indera.

Hubungan Manusia dan Keindahan
Manusia dan keindahan memang tak bisa dipisahkan sehingga kia perlu melestarikan bentuk dari keindahan yang telah dituangkan dalam berbagai bentuk kesenian (seni rupa, seni suara maupun seni pertunjukan) yang nantinya dapat menjadi bagian dari suatu kebudayaan yang dapat dibanggakan dan mudah-mudahan terlepas dari unsur politik.
Kawasan keindahan bagi manusia sangat luas, seluas keanekaragaman manusia dan sesuai pula dengan perkembangan peradaban teknologi, sosial, dan budaya. Karena itu keindahan dapat dikatakan, bahwa keindahan merupakan bagian hidup manusia. Keindahan tak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Dimanapun kapan pun dan siapa saja dapat menikmati keindahan.

Keindahan identik dengan kebenaran. Keindahan merupakan kebenaran dan kebenaran adalah keindahan. Keduanya mempunyai nilai yang sama yaitu abadi, dan mempunyai daya tarik yang selalu bertambah. Sesuatu yang tidak mengandung kebenaran berarti tidak indah. Karena itu hanya tiruan lukisan Monalisa yang tidak indah, karena dasarnya tidak benar. Sudah tentu kebenaran disini bukan kebenaran ilmu, melainkan kebenaran menurut konsep dalam seni. Dalam seni, seni berusaha memberikan makna sepenuh-penuhnya mengenai obyek yang diungkapkan.
Manusia yang menikmati keindahan berarti manusia mempunyai pengalaman keindahan.

Pengalaman  keindahan biasanya bersifat terlihat (visual) atau terdengar (auditory) walaupun tidak terbatas pada dua bidang tersebut.
Keindahan tersebut pada dasarnya adalah almiah. Alam itu ciptaan Tuhan. Alamiah itu adalah wajar tidak berlebihan dan tidak kurang. Konsep keindahan itu sendiri sangatlah abstrak ia identik dengan kebenaran. Batas keindahan akan behenti pada pada sesuatu yang indah dan bukan pada keindahan itu sendiri. Keindahan mempunyai daya tarik yang  selalu bertambah,  sedangkan yang tidak ada unsur keindahanya tidak mempunyai daya tarik. Orang yang mempunyai konsep keindahan adalah orang yang mampu berimajinasi, rajin dan kreatif dalam menghubungkan benda satu dengan yang lainya.

Dengan kata lain imajinasi merupakan proses menghubungkan suatu benda dengan benda lain sebagai objek imajinasi. Demikian pula kata indah diterapkan untuk persatuan orang-orang yang beriman, para nabi, orang yang menghargai kebenaran dalam agama, kata dan perbuatan serta orang –orang yang saleh merupakan persahabatan yang paling indah.
Jadi keindahan mempunyai dimensi interaksi yang sangat luas baik hubungan manusia dengan benda, manusia dengan manusia, manusia dengan Tuhan, dan bagi orang itu sendiri yang melakukan interaksi.

Pengungkapan keindahan dalam karya seni didasari oleh motivasi tertentu dan dengan tujuan tertentu pula. Motivasi itu dapat berupa pengalaman atau kenyataan mengenai penderitaan hidup manusia, mengenai kemerosotan moral, mengenai perubahan nilai-nilai dalam masyarakat, mengenai keagungan Tuhan, dan banyak lagi lainnya. Tujuannya tentu saja dilihat dari segi nilai kehidupan manusia, martabat manusia, kegunaan bagi manusia secara kodrati.

Ada beberapa alasan mengapa manusia menciptakan keindahan, yaitu sebagai berikut:
1)      Tata nilai yang telah usang
2)      Kemerosotan Zaman
3)      Penderitaan Manusia
4)      Keagungan Tuhan



Jumat, 17 April 2015

Manusia dan Pemujaan

Nama    : Abraham F. S
NPM      : 10314083
Kelas     : 1TA02
Matkul : Ilmu Budaya Dasar

Manusia dan Pemujaan

                Secara umum, pemujaan dapat diartikan seperti dimana kita menyenangi atau menghormati sesuatu yang kita senangi atau kita cintai. Contohnya seperti seorang remaja yang sangat menyukai atau mengidolakan dari salah seorang artis terkenal, tentu remaja tersebut akan mencari segala bentuk informasi dari idola nya tersebut dan mengikuti kebiasaannya. Contoh lain adalah berdasarkan nilai agama, pemujaan berkaitan erat dengan hubungan manusia dengan penciptanya, yaitu bagaimana manusia memuji Tuhan nya sesuai agama yang dianut atau diajarkan, itu merupakan bentuk pemujaan.

Pada garis besarnya pengertian pemujaan mencakup dua aspek, yaitu antara yang memuja dan yang dipuja. Dalam  hal puja memuja, dapat digolongkan menjadi beberapa bagian yakni:

1.      Puja memuja antar sesama manusia
Pada dasarnya manusia memuja manusia lainnya disebabkan oleh beberapa faktor. Antara lain pemujaan yang berkaitan dengan perasaan jatuh cinta hingga menyebabkan terjadi perubahan sikap, perilaku, tutur kata, dan hal-hal yang menimbulkan perubahan itu sebagaimana layaknya jatuh cinta.

2.       Manusia memuja alam
Secara alamiah, manusia dan alam merupakan gabungan dalam suatu ekosistem. Tentunya ada saling keterikatan antara manusia dengan alam. Tentunya manusia harus bersahabat dengan alam, agar alam juga bersahabat dengan manusia. Bentuk pemujaan manusia terhadap alam adalah seperti menjaga dan meletarikan alam.

3.       Manusia memuja benda
Pada hakekatnya benda (materi) sangat di butuhkan dalam kehidupan manusia, sepanjang benda itu bukan merupakan tujuan akhir. Pemujaan manusia terhadap benda secara berlebihan pasti akan mengundang masalah. Karena benda beralih fungsi dari peranannya sebagai alat perpaduan hidup berubah menjadi sesuatu yang dipuja dan dipertaruhkan.

4.       Manusia memuja dewa
Hal ini mtermasuk dalam lingkup keyakinan berkepercayaan (khususnya agama-agama samawi). Namun demikian keyakinan berkepercayaan seperti itu tak perlu diganggu gugat, bahkan sebaliknya harus di hargai karena keyakinan berkepercyaan sebagaimana di maksud adalah milik orang lain.

5.       Manusia memuja Tuhan Yang Maha Esa
Pemujaan manusia terhadap Tuhan Yang Maha Esa pelaksanaannya berbeda-beda sesuai dengan agama yang diyakini atau dianut oleh setiap kelompok masyarakat.




Senin, 13 April 2015

Cinta Kasih (Cinta Kasih Manusia)

Nama                    : Abraham F. S
NPM                     : 10314083
Kelas                    : 1TA02
Matkul                 : Ilmu Budaya Dasar

Cinta Kasih
(Cinta Kasih Manusia)

                Cinta kasih sangat erat kaitannya dengan kehidupan manusia. Karena manusia memiliki perasaan, tentunya manusi juga dapat merasakan cinta kasih. Secara umum cinta kasih dapet diartikan sebagai suatu rasa sangat menyukai atau menyayangi seseorang. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Cinta adalah Rasa sangat suka ( kepada ) atau rasa sayang ( kepada ).  Ataupun rasa sangat  kasih atau sangat tertarik hatinya. Sedangkan kata Kasih artinya perasaan sayang atau cinta ( kepada ) atau menaruh belas kasihan. Walaupun cinta kasih mengandung arti hampir sama, namun terdapat perbedaan juga antara keduanya. Cinta lebih mengandung pengertian mendalam rasa, sedangkan kasih lebih keluarnya. Dengan kata lain bersumber dari cinta yang mendalam itulah kasih dapat diwujudkan secara nyata.

Cinta memegang peranan yang penting dalam kehidupan manusai, sebab cinta merupakan landasan dalam kehidupan perkawinan, pembentukan keluarga dan pemeliharaan anak, hubungan yang erat dimasyarakat dan hubungan manusiawi yang akrab.

Pengertian tentang cinta dikemukakan juga oleh Dr Sarlito W. Sarwono dikatakan bahwa cinta memiliki tiga unsur yaitu:

Keterikatan
Adalah adanya perasaan untuk hanya bersama dia, segala prioritas untuk dia, tidak mau pergi dengan orang lain kecuali dengan dirinya. Contoh rasa cinta yang ada pada bayi yang mana bayi tersebut memiliki rasa keterkaitan dan ketergantngan kepada orang tuanya  dan begitu juga sebaliknya orang tua bayi tersebut tidak akan pergi tanpa membawa bayinya. Orang tersebut memiliki suatu hubungan yang sudah mengikat mereka dalam cinta. 

Keintiman
Adanya kebiasaan dan tingkah laku yang menunjukkan bahwa antara anda dengan dia sudah tidak ada jarak lagi panggilan formal seperti bapak, ibu saudara digantikan dengan sekedar memanggil nama atau sebutan sayang dan sebagainya.

Kemesraan
Adanya rasa ingin membelai dan dibelai, rasa kangen rindu jika jauh atau lama tak bertemu, adanya ungkapan ungkapan rasa sayang dan seterusnya.
Pada dasarnya, manusia merupakan makhluk yang berperasaan. Cinta kasih itu merupakan salah satu bentuk perasaan yang manusia tunjukan. Sesama manusia hendaklah saling mengasihi dan mencintai walupun dilatarbelakangi banyaknya perbedaan, tetapi perbedaan itu bukanlah penghalang untuk menunjukan cinta dan kasih kita.



Senin, 06 April 2015

"Ilmu Budaya Dasar Yang Dihubungkan Dengan Prosa"



Nama               : Abraham Franklin Senduk
NPM               : 10314083
Kelas               : 1TA02
Matkul             : Ilmu Budaya Dasar


“Ilmu Budaya Dasar Yang Dihubungkan Dengan Prosa”
Fabel
Prosa disebut juga dengan cerita rekaan yang dapat didefinisikan sebagai bentuk cerita yang mempunyai pemeran, peristiwa dan alur yang dihasilkan oleh daya khayal atau imajinasi. Jenis prosa ada 2 yaitu prosa lama (dongeng, fabel, hikayat, sejarah) dan prosa baru (cerpen, novel, biografi). Dengan membaca prosa kita dapat memperoleh kesenangan, informasi, warisan budaya, keseimbangan wawasan, nilai moral dan pengetahuan. (Nugroho, W., & Muchji, A. (1996). Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: Universitas Gunadarma)

 “Si Kancil dan Buaya”
            Suatu hari Si Kancil, binatang yang katanya cerdik itu, sedang berjalan-jalan di pinggir hutan. Dia hanya ingin mencari udara segar, melihat matahari yang cerah bersinar. Di dalam hutan terlalu gelap, karena pohon-pohon sangat lebat dan tajuknya menutupi lantai hutan. Dia ingin berjemur di bawah terik matahari. Di situ ada sungai besar yang airnya dalam sekali. Setelah sekian lama berjemur, Si Kancil merasa bahwa ada yang berbunyi di perutnya,..krucuk…krucuk…krucuk. Wah, rupanya perutnya sudah lapar. Dia membayangkan betapa enaknya kalau ada makanan kesukaannya, ketimun. Namun kebun ketimun ada di seberang sungai, bagaimana cara menyeberanginya ya? Dia berfikir sejenak. Tiba-tiba dia meloncat kegirangan, dan berteriak: “Buaya….buaya…. ayo keluar….. Aku punya makanan untukmu…!!” Begitu Kancil berteriak kepada buaya-buaya yang banyak tinggal di sugai yang dalam itu.
Sekali lagi Kancil berteriak, “Buaya…buaya… ayo keluar… mau daging segar nggak?”
Tak lama kemudian, seekor buaya muncul dari dalam air, “Huaahhh… siapa yang teriak-teriak siang-siang begini.. mengganggu tidurku saja.” “Hei Kancil, diam kau.. kalau tidak aku makan nanti kamu.” Kata buaya kedua yang juga muncul.
“Wah…. bagus kalian mau keluar, mana yang lain?” kata Kancil kemudian. “Kalau cuma dua ekor masih sisa banyak nanti makanan ini. Ayo keluar semuaaa…!” Kancil berteriak lagi.
“Ada apa Kancil sebenarnya, ayo cepat katakan,” kata buaya.
“Begini, maaf kalau aku mengganggu tidurmu, tapi aku akan bagi-bagi daging segar buat buaya-buaya di sungai ini,” makanya harus keluar semua.
Mendengar bahwa mereka akan dibagikan daging segar, buaya-buaya itu segera memanggil teman-temannya untuk keluar semua. “Hei, teman-teman semua, mau makan gratis nggak? Ayo kita keluaaaar….!” buaya pemimpin berteriak memberikan komando. Tak berapa lama, bermunculanlah buaya-buaya dari dalam air.
“Nah, sekarang aku harus menghitung dulu ada berapa buaya yang datang, ayo kalian para buaya pada baris berjajar hingga ke tepi sungai di sebelah sana,” “Nanti aku akan menghitung satu persatu.”
Tanpa berpikir panjang, buaya-buaya itu segera mengambil posisi, berbaris berjajar dari tepi sungai satu ke tepi sungai lainnya, sehingga membentuk seperti jembatan.
“Oke, sekarang aku akan mulai menghitung,” kata Kancil yang segera melompat ke punggung buaya pertama, sambil berteriak, “Satu….. dua….. tiga…..” begitu seterusnya sambil terus meloncat dari punggung buaya satu ke buaya lainnya. Hingga akhirnya dia sampai di seberang sungai. Hatinya tertawa, “Mudah sekali ternyata.”
Begitu sampai di seberang sungai, Kancil berkata pada buaya, “Hai buaya bodoh, sebetulnya tidak ada daging segar yang akan aku bagikan. Tidakkah kau lihat bahwa aku tidak membawa sepotong daging pun?” “Sebenarnya aku hanya ingin menyeberang sungai ini, dan aku butuh jembatan untuk lewat. Kalau begitu saya ucapkan terima kasih pada kalian, dan mohon maaf kalau aku mengerjai kalian,” kata Kancil.
“Ha!….huaahh… sialan… Kancil nakal, ternyata kita cuma dibohongi. Aws kamu ya.. kalau ketemu lagi saya makan kamu,” kata buaya-buaya itu geram.
Si Kancil segera berlari menghilang di balik pohon, menuju kebun Pak Tani untuk mencari ketimun.

Manfaat yang diperoleh dari fable tentang “Si Kancil dan Buaya” adalah:
-  memberi kesenangan, dimana setelah pembaca membaca fable ini pembaca merasakan suatu kesenengan mugkin dari sifat kancil yang cerdik dan alur cerita yang menarik
- memberikan informasi tentang cara hidup kancil di hutan, bahwa di hutan itu hokum rimba sangat berlaku, jadi kancil harus cerdik demi mempertahankan hidupnya.
-  menambah informasi tentang makanan kancil yang ternyata benar bahwa kancil menyukai timun, lebih tepatnya jenis makanan seperti sayur mayur dan buah- buahan yang tersedia di hutan
- nilai moral yang dapat diperoleh dari fabel si Kancil dan Buaya adalah, kita harus mempunyai sifat cerdik seperti kancil dalam diri kita, tetapi sifat cerdik itu harus yang positif, jangan sampai kecerdikan yang kita miliki kita manfaatkan untuk hal hal yang negatif .

Minggu, 22 Maret 2015

Kaitan Manusia Dengan Budaya

Nama                    : Abraham Franklin Senduk
NPM                      : 10314083
Kelas                     : 1TA02
Matkul                  : Ilmu Budaya Dasar


Kaitan Manusia Dengan Budaya
“Keterikatan Manusia dengan Budaya”

                Manusia dan budaya merupakan salah satu hubungan yang memiliki keterikatan yang tidak dapat dipisahkan begitu saja. Artinya dalam kehidupan nyata manusia sehari- hari sangat bergantung dan terikat oleh suatu kebudayaan. Kebudayaan yang sudah dari lampau turun temurun diciptakan oleh manusia dan dilakukan serta dilestarikan sendiri oleh manusia. Bisa dikatakan bahwa kebudayaan tercipta dari kejadian dan kegiatan sehari- hari manusia.

                Manusia merupakan ciptaan Tuhan yang memiliki akal budi dan perasaan, sedangkan kebudayaan itu sangat bersifat abstrak dan sangat berkaitan dengan akal dan budi manusia.  Oleh karena itu peran manusia sangatlah penting karena manusia berakal  budi sehingga manusia tahu mana yang baik dan apa yang perlu dipertahankan dari suatu kebudayaan dalam kehidupan sehari- hari dimana telah menjadi suatu pola hidup atau kebiasaan untuk menjalankan kehidupan sehari. BIsa dikatakan bahwa manusia hidup berdasarkan budaya yang dipahami atau dilaksanakan turun temurun.

                Kebudayaan sendiri memiliki unsur yang sangat universal atau beragam. Dapat kita pahami bahwa kebudayaan dapat kita lihat seperti dari unsur keagamaan, organisasi kemasyarakatan, pendidikan, bahasa , kesenian dan masih banyak lagi. Sangat jelas bahwa kita sebagia masyarakat Indonesia hidup dengan berbagai macam kebudayaan dan tidak dapat melepaskan ikatan kita dengan kebudayaan sehari- hari.

                Contoh kaitan manusia dengan budaya adalah kebudayaan masyarakat Sumatra dengan kebudayaan masyarakat Bali tentulah berbeda. Ketika orang Sumatra pergi ke Bali, tentunya orang Sumatra tersebut tidak bisa berprilaku atau berinteraksi dengan menggunakan budaya atau kebiasaan di daerahnya, tentunya ia perlu menyesuaikan diri (beradapatasi) dengan kebudayaan di lingkungan Bali. Sehingga orang tersebut harus mengetahui dan memahami adat istiadat serta norma yang berlaku di Bali.